Sepertiyang disampaikan di atas, QS Al Hujurat ayat 12 adalah salah satu ayat alquran yang mengatur tentang prasangka baik. Memang, kami sudah melampirkan terjemahan QS Al Hujurat ayat 12, namun kita juga perlu mengetahui terjemahan dari masing-masing kata yang ada pada Al Hujurat ayat 12. اجْتَنِبُوا : jauhilah QS24:2 Quran Surat An Nur Ayat 2 terjemah bahasa indonesia oleh kementrian agama republik indonesia (Kemenag) atau departemen agama (Depag) Muhammad Quraish Shihab, tafsir jalalain (Jalal ad-Din al-Mahalli dan Jalal ad-Din as-Suyuti. disertai juga dengan terjemahan bahasa malaysia oleh Abdullah Muhammad Basmeih. An Nur dalam bahasa arab Danberikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. Ingin rezeki berlimpah dengan berkah? Ketahui rahasianya dengan Klik disini! Embed > Tag : SuratAn-Nur Ayat 31 - 40 dengan Tafsir dan Terjemahannya. "Dan janganlah belas kasihan kalian kepada keduanya mencegah kalian untuk menjalankan agama (hukum) Allah." (Q.S. An-Nur, 2) dan firman-Nya, "Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukmin dan Mukminat tidak berprasangka baik". (Q.S. An-Nur, 12). Dan firman . اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِىۡ فَاجۡلِدُوۡا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنۡهُمَا مِائَةَ جَلۡدَةٍ‌ ۖ وَّلَا تَاۡخُذۡكُمۡ بِهِمَا رَاۡفَةٌ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ۚ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآٮِٕفَةٌ مِّنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ Azzaaniyatu wazzaanii fajliduu kulla waahidim minhumaa mi'ata jaldatinw wa laa taakhuzkum bihimaa raafatun fii diinil laahi in kuntum tu'minuuna billaahi wal Yawmil Aakhiri wal yashhad 'azaabahumaa taaa'ifatum minal mu'miniin Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. Juz ke-18 Tafsir Surah ini mengandung ketentuan hukum yang pasti, salah satunya hukum perzinaan. Kepada pezina perempuan yang belum pernah menikah dan demikian pula pezina laki-laki yang belum pernah menikah, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali jika perziaan keduanya terbukti sesuai dengan syarat-syaratnya, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama dan hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Salah satu konsekuensi iman adalah melaksanakan hukum Allah. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman, sedikitnya tiga atau empat orang, agar hukuman itu menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang melihat dan mendengarnya. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang Islam yang berzina baik perempuan maupun laki-laki yang sudah akil balig, merdeka, dan tidak muhsan hukumnya didera seratus kali dera, sebagai hukuman atas perbuatannya itu. Yang dimaksud dengan muhsan ialah perempuan atau laki-laki yang pernah menikah dan bersebadan. Tidak muhsan berarti belum pernah menikah dan bersebadan, artinya gadis dan perjaka. Mereka bila berzina hukumannya adalah dicambuk seratus kali. Pencambukan itu harus dilakukan tanpa belas kasihan yaitu tanpa henti dengan syarat tidak mengakibatkan luka atau patah tulang. Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tidak dibenarkan bahkan dilarang menaruh belas kasihan kepada pelanggar hukum itu yang tidak menjalankan ketentuan yang telah digariskan di dalam agama Allah. Nabi Muhammad harus dijadikan contoh atau teladan dalam menegakkan hukum. Beliau pernah berkata Dari 'Aisyah berkata Rasulullah bersabda, "Andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti saya potong tangannya." Riwayat asy-Syaikhan Hukuman cambuk itu hendaklah dilaksanakan oleh yang berwajib dan dilakukan di tempat umum dan terhormat, seperti di masjid, sehingga dapat disaksikan oleh orang banyak, dengan maksud supaya orang-orang yang menyaksikan pelaksanaan hukuman dera itu mendapat pelajaran, sehingga mereka benar-benar dapat menahan dirinya dari perbuatan zina. Adapun pezina-pezina muhsan baik perempuan maupun laki-laki hukumannya ialah dilempar dengan batu sampai mati, yang menurut istilah dalam Islam dinamakan "rajam". Hukuman rajam ini juga dilaksanakan oleh orang yang berwenang dan dilakukan di tempat umum yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Hukum rajam ini didasarkan atas sunnah Nabi saw yang mutawatir. Diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Jabir bin Abdillah, Abu Said Al-Khudri, Abu Hurairah, Zaid bin Khalid dan Buraidah al-Aslamy, bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama Ma'iz telah dijatuhi hukuman rajam berdasarkan pengakuannya sendiri bahwa ia berzina. Begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lahm dan Bani Hamid telah dijatuhi hukuman rajam, berdasarkan pengakuan keduanya bahwa mereka telah berzina. Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Begitulah hukuman perbuatan zina di dunia. Adapun di akhirat nanti, pezina itu akan masuk neraka jika tidak bertaubat, sebagaimana sabda Nabi saw. "Jauhilah zina karena di dalam zina ada empat perkara. Menghilangkan kewibawaan wajah, memutus rezeki, membikin murka Allah, dan menyebabkan kekal di neraka." Riwayat ath-thabrani dalam Mu'jam al-Ausath, dari Ibnu 'Abbas Kenyataannya adalah bahwa budaya pergaulan bebas laki-laki dan perempuan telah menimbulkan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan, yaitu HIV/AIDS, hilangnya sistem kekebalan tubuh pada manusia pada akhirnya yang bersangkutan akan mati secara perlahan. Juga telah memunculkan banyaknya bayi lahir di luar nikah, sehingga mengacaukan keturunan dan pada gilirannya mengacaukan tatanan hukum dan sosial. Perbuatan zina telah disepakati sebagai dosa besar yang berada pada posisi ketiga sesudah musyrik dan membunuh, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Nabi saw Berkata Abdullah bin Mas'ud, "Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Rasulullah menjawab, "Engkau jadikan bagi Allah sekutu padahal Dialah yang menciptakanmu," Berkata Ibnu Mas'ud, "Kemudian dosa apalagi?", jawab Rasulullah, "Engkau membunuh anakmu karena takut akan makan bersamamu." Berkata Ibnu Mas'ud, "Kemudian dosa apalagi?" Rasulullah menjawab, "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." Senada dengan hadis ini, firman Allah Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, serta tidak berzina. al-Furqan/25 68 Hukuman di dunia itu baru dilaksanakan bila tindakan perzinaan itu benar-benar terjadi. Kepastian terjadi atau tidaknya perbuatan zina ditentukan oleh salah satu dari tiga hal berikut bukti bayyinah, hamil, dan pengakuan yang bersangkutan, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Huzaifah Hukum rajam dalam Kitabullah jelas atas siapa yang berzina bila dia muhsan, baik laki-laki maupun perempuan, bila terdapat bukti, hamil atau pengakuan. Riwayat al-Bukhari dan Muslim Yang dimaksud dengan "bukti" dalam hadis tersebut adalah kesaksian para saksi yang jumlahnya paling kurang empat orang laki-laki yang menyaksikan dengan jelas terjadinya perzinaan. Bila tidak ada atau tidak cukup saksi, diperlukan pengakuan yang bersangkutan, bila yang bersangkutan tidak mengaku, maka hukuman tidak bisa dijatuhkan. Hukuman di akhirat, yaitu azab di dalam neraka sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan Huzaifah di atas, terjadi bila yang bersangkutan tidak tobat. Bila yang bersangkutan tobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, maka ia terlepas dari hukuman akhirat, sebagaimana hadis yang mengisahkan seorang sahabat yang bernama Hilal yang menuduh istrinya berzina tetapi si istri membantahnya. Nabi mengatakan bahwa hukuman di akhirat lebih dahsyat dari hukuman di dunia, yaitu rajam, jauh lebih ringan. Tetapi perempuan itu malah mengingkari bahwa ia telah berzina. Dari peristiwa itu dipahami bahwa bila orang yang berzina telah bertobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, ia terlepas dari hukuman di akhirat. sumber Keterangan mengenai QS. An-NurSurat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai An Nuur yang berarti Cahaya, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga. Ayat 2. كُلَّ وَاحِدٍ فَاجْلِدُوْا وَالزَّانِيْ اَلزَّانِيَةُ masing masing deralah dan pezina laki laki pezina peremupan وَّلَا تَأْخُذْكُمْ جَلْدَةٍۖ مِائَةَ مِّنْهُمَا dan janganlah kamu tercegah deraan seratus kali dari keduanya إِنْ كُنْتُمْ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ بِهِمَا رَأْفَةٌ jika kamu dari menjalankan agama hukum Allah karena belas kasihan kepada keduanya وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۚ بِاللّٰهِ تُؤْمِنُوْنَ dan hari kemudian kepada Allah beriman مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ طَآئِفَةٌ عَذَابَهُمَا وَلْيَشْهَدْ yang beriman oleh sebagian orang orang pelaksanaan hukuman mereka dan hendaklah disaksikan Ayat 3. أَوْ مُشْرِكَةًۖ إِلَّا زَانِيَةً لَا يَنْكِحُ اَلزَّانِيْ atau dengan perempuan musyrik kecuali dengan pezina perempuan tidak boleh menikah pezina laki laki إِلَّا زَانٍ لَا يَنْكِحُهَآ وَّالزَّانِيَةُ kecuali dengan pezina laki laki tidak boleh menikah dan pezina perempuan عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ أَوْ مُشْرِكٌۚ bagi orang orang mukmin dan yang demikian itu diharamkan atau dengan laki laki musyrik Ayat 4. الْمُحْصَنٰتِ يَرْمُوْنَ وَالَّذِيْنَ perempuan perempuan yang baik berzina menuduh dan orang orang yang شُهَدَآءَ بِأَرْبَعَةِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا orang saksi empat dan mereka tidak mendatangkan وَّلَا تَقْبَلُوْا جَلْدَةً ثَمٰنِيْنَ فَاجْلِدُوْهُمْ dan janganlah kamu terima deraan delapan puluh kali maka deralah mereka ۙالْفٰسِقُوْنَ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ أَبَدًاۚ لَهُمْ شَهَادَةً orang orang fasik mereka itulah untuk selama lamanya kesaksian mereka Ayat 5. ذٰلِكَ مِنْ بَعْدِ تَابُوْا إِلَّا الَّذِيْنَ itu setelah bertaubat kecuali mereka yang رَّحِيْمٌ غَفُوْرٌ فَإِنَّ اللّٰهَ وَأَصْلَحُوْاۚ Maha Penyayan Maha Pengampun maka sungguh, Allah dan memperbaiki dirinya Ayat 6. وَلَمْ يَكُنْ أَزْوَاجَهُمْ يَرْمُوْنَ وَالَّذِيْنَ padahal tidak ada istrinya berzina menuduh dan orang orang yang فَشَهَادَةُ إِلَّآ أَنْفُسُهُمْ شُهَدَآءُ لَّهُمْ maka kesaksian selain diri mereka sendiri saksi saksi pada mereka شَهٰدٰتٍ أَرْبَعُ أَحَدِهِمْ bersumpah ialah empat kali masing masing orang itu لَمِنَ الصّٰدِقِيْنَ إِنَّهٗ بِاللّٰهِۙ termasuk orang yang berkata benar bahwa sesungguhnya dia dengan nama Allah Ayat 7. أَنَّ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْخَامِسَةُ bahwa laknat Allah dan sumpah yang kelima مِنَ الْكٰذِبِيْنَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ termasuk orang yang berdust jika dia akan menimpanya Ayat 8. أَرْبَعَ أَنْ تَشْهَدَ عَنْهَا الْعَذَابَ وَيَدْرَؤُا empat kali apabila dia bersumpah dari hukuman dan istri itu terhindar ۙلَمِنَ الْكٰذِبِيْنَ إِنَّهٗ بِاللّٰهِ شَهٰدٰتٍ benar benar termasuk orang orang yang berdusta bahwa dia suaminya atas nama Allah sumpah Ayat 9. أَنَّ غَضَبَ اللّٰهِ وَالْخَامِسَةَ bahwa kemurkaan Allah dan sumpah yang kelima مِنَ الصّٰدِقِيْنَ إِنْ كَانَ عَلَيْهَآ termasuk orang yang berkata benar jika dia suaminya itu akan menimpanya istri Ayat 10. وَرَحْمَتُهٗ عَلَيْكُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ dan rahmat-Nya niscaya kamu akan menemui kesulitan kepadamu dan sekiranya bukan karena karunia Allah حَكِيْمٌ تَوَّابٌ وَأَنَّ اللّٰهَ Mahabijaksana Maha Penerima tobat dan sesungguhnya Allah An-Nur 22 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ النّور ٢٢ walāوَلَاAnd notdan janganyataliيَأْتَلِlet swearbersumpahulūأُو۟لُوا۟those of virtueorang-orangl-faḍliٱلْفَضْلِthose of virtueyang mempunyai kelebihanminkumمِنكُمْamong youdiantara kamiwal-saʿatiوَٱلسَّعَةِand the amplitude of meansdan keluasan/kelapangananأَنthatbahwayu'tūيُؤْتُوٓا۟they givemereka memberiulīأُو۟لِىto the near of kinkauml-qur'bāٱلْقُرْبَىٰto the near of kinkerabatwal-masākīnaوَٱلْمَسَٰكِينَand the needydan orang-orang miskinwal-muhājirīnaوَٱلْمُهَٰجِرِينَand the emigrantsdan orang-orang yang berhijrahfīفِىinpadasabīliسَبِيلِthe wayjalanl-lahiٱللَّهِۖof AllahAllahwalyaʿfūوَلْيَعْفُوا۟And let them pardondan hendaklah mereka memaafkanwalyaṣfaḥūوَلْيَصْفَحُوٓا۟ۗand let them overlookdan hendaklah mereka berlapang dadaalāأَلَاDo notapakah tidaktuḥibbūnaتُحِبُّونَyou likekamu menyukaianأَنthatbahwayaghfiraيَغْفِرَAllah should forgivemengampunil-lahuٱللَّهُAllah should forgiveAllahlakumلَكُمْۗyou?bagi kalianwal-lahuوَٱللَّهُAnd Allahdan Allahghafūrunغَفُورٌis Oft-ForgivingMaha PengampunraḥīmunرَّحِيمٌMost MercifulMaha Penyayang Transliterasi Latin Wa lā ya`tali ulul-faḍli mingkum was-sa'ati ay yu`tū ulil-qurbā wal-masākīna wal-muhājirīna fī sabīlillāhi walya'fụ walyaṣfaḥụ, alā tuḥibbụna ay yagfirallāhu lakum, wallāhu gafụrur raḥīm QS. 2422 Arti / Terjemahan Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, QS. An-Nur ayat 22 Tafsir Ringkas KemenagKementrian Agama RI Salah satu bentuk godaan setan adalah mencarikan dalih agar seseorang enggan membantu orang lain. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dalam kesalehan beragama serta keutamaan akhlak yang luhur dan kelapangan rezeki di antara kamu, wahai orang-orang yang beriman, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat-nya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah hanya karena orang-orang itu pernah berbuat kesalahan kepadanya atau membuat pribadinya tersinggung. Sebaiknya mereka berbesar hati dengan tetap mengulurkan bantuan, dan hendaklah mereka memaafkan orang yang pernah melukai hatinya, dan berlapang dada sehingga dapat membuka lembaran baru dalam hubungan mereka. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampuni kesalahan dan kekurangan kamu? Tentu kamu suka. Karena itu, maafkanlah mereka agar Allah memaafkan dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun sehingga akan menghapus dosa kamu, Maha Penyayang dengan mencurahkan nikmat lebih banyak lagi kepada kamu. Tafsir Lengkap KemenagKementrian Agama RI Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah, janganlah mereka itu bersumpah untuk tidak mau memberikan bantuan kepada karib kerabatnya yang memerlukan bantuan karena berbuat salah, seperti Mistah anak dari saudara perempuan Ibunya Abu Bakar ra. ia seorang fakir miskin, berhijrah dari Mekah ke Medinah yang turut bersama Rasulullah saw, memperkuat pasukan kaum Muslimin di Perang karena itu, sesudah turun wahyu yang menunjukkan atas kebersihan Aisyah dari hal yang dituduhkan kepadanya, dan setelah Allah mengampuni orang-orang yang semestinya diampuni, serta diberi hukuman kepada orang-orang yang semestinya menerima yang demikian itu, maka Abu Bakar ra, kembali ramah dan berbuat baik serta memberi bantuan kepada kerabatnya Mistah. Mistah adalah sepupunya, anak dari saudara perempuan ibunya. Orang-orang mukmin hendaklah memaafkan dan berlapang dada kepada segenap oknum yang terlibat atau dilibatkan di dalam peristiwa hadisul ifki. Pemaafan dan kembali membantu mereka itu merupakan sarana untuk memperoleh ampunan dari Allah. Adakah manusia yang tidak ingin bahwa dosa-dosanya diampuni Allah? Siapakah yang tidak berdosa dalam hidupnya? Bila mereka melakukannya, yaitu memaafkan dan membantu mereka yang kekurangan, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan menyayangi mereka. Mereka akan masuk al-JalalainJalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi Dan janganlah bersumpah orang-orang yang mempunyai kelebihan yaitu orang-orang kaya dan kelapangan di antara kalian, bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar r. a, ia bersumpah tidak akan memberikan nafkah lagi kepada Misthah saudara sepupunya yang miskin lagi seorang Muhajir, padahal Misthah adalah sahabat yang ikut dalam perang Badar. Misthah terlibat dalam peristiwa berita bohong ini; maka sahabat Abu Bakar menghentikan nafkah yang biasa ia berikan kepadanya. Para sahabat lainnya telah bersumpah pula, bahwa mereka juga tidak akan memberikan nafkah lagi kepada seorang yang terlibat membicarakan masalah berita bohong tersebut dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka yang terlibat, dengan mengembalikan keadaan seperti semula. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Sahabat Abu Bakar berkata sesudah turunnya ayat ini, "Tentu saja, aku menginginkan supaya Allah mengampuni aku", lalu ia memberikan lagi bantuannya kepada Misthah sebagaimana biasanya. Tafsir Ibnu KatsirIsmail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Firman Allah Swt. yang menyebutkanDan janganlah bersumpah. An Nuur22Berasal dari kata ilyah yang artinya sama dengan al-hilf maksudnya 'janganlah bersumpah'.orang-orang yang mempunyai kelebihan di antara kalian. An Nuur22Yang dimaksud dengan kelebihan ialah kelebihan harta, rajin bersedekah, dan berbuat kelapangan. An Nuur22 Yaitu tidak akan memberikan bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah. An Nuur22Yakni janganlah kalian bersumpah bahwa kalian tidak akan bersilaturahmi lagi dengan kaum kerabat kalian, orang-orang miskin, dan kaum Muhaj irin. Yaitu tidak akan lagi memberikan bantuan kepada mereka. Ayat ini mengandung anjuran yang sangat untuk berbelaskasihan dan lemah lembut terhadap kaum kerabat dalam rangka bersilaturahmi kepada mereka. Firman Allah Swt.dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. An Nuur22terhadap keburukan dan sikap menyakitkan mereka di masa lalu. Hal ini termasuk sifat Penyantun Allah Swt., Kemuliaan, dan Kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya, padahal mereka berbuat aniaya terhadap dirinya ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar As-Siddiq ketika ia bersumpah bahwa dia tidak akan memberikan bantuannya lagi kepada Mistah ibnu Asasah untuk selamanya. Hal ini terjadi setelah Mistah mengatakan hal-hal yang buruk terhadap putrinya yaitu Siti Aisyah seperti yang telah disebutkan di Allah menurunkan wahyu yang membersihkan diri Siti Aisyah Ummul Mu’minin sehingga hati Siti Aisyah senang dan tenteram, dan Allah menerima tobat orang-orang yang membicarakan berita bohong itu dari kalangan kaum mukmin, lalu ditegakkan hukum had kepada sebagian dari mereka yang berhak menerimanya. Maka Khitab Allah beralih kepada sahabat Abu Bakar As-Siddiq yang memerintahkan kepadanya agar berbelas kasih kepada kerabatnya, yaitu Mistah ibnu Asasah. Mistah ibnu Asasah adalah anak bibi sahabat Abu Bakar, yang berarti sepupu dia. Mistah adalah orang yang miskin, tidak berharta kecuali apa yang ia terima dari uluran bantuan sahabat Abu Bakar Mistah termasuk salah seorang dari kaum Muhajirin yang berjihad di jalan Allah. Tetapi ia terpeleset dan melakukan suatu kesalahan, kemudian Allah menerima tobatnya, dan telah menjalani hukuman had yang harus diterimanya akibat kesalahannya Abu Bakar adalah seorang yang bijak lagi dermawan. Ia suka berderma dan memberikan bantuannya, baik kepada kerabatnya sendiri maupun orang lain. Ketika ayat ini diturunkan hingga firman-Nya Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? An Nuur22, hingga akhir sesungguhnya setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana engkau mengampuni dosa orang yang berdosa kepadamu, maka Allah mengampuni pula dosa-dosamu. Dan sebagaimana kamu memaaf, maka Allah pun memaafmu pula. Maka pada saat itu juga Abu Bakar berkata, "Benar, demi Allah, sesungguhnya kami suka bila Engkau memberikan ampunan kepada kami, wahai Tuhan kami."Kemudian Abu Bakar kembali memberikan nafkah bantuannya kepada Mistah seperti biasanya. Untuk itu Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya." Perkataannya kali ini untuk mengimbangi apa yang telah dikatakannya sebelum itu, yakni ucapannya," Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi barang sedikit pun, selamanya." Karena itulah maka sahabat Abu Bakar sesuai dengan nama julukannya, yaitu As-Siddiq, semoga Allah melimpahkan rida kepadanya, juga kepada Quraish ShihabMuhammad Quraish Shihab Orang-orang yang saleh dan memiliki kekayaan di antara kalian hendaknya tidak bersumpah untuk tidak memberikan derma kepada kerabat, orang miskin, orang yang berada di jalan Allah dan orang yang berhak menerima infak lainnya, hanya karena alasan-alasan yang bersifat pribadi seperti dengan sengaja menyakiti mereka. Sebaliknya, mereka hendaknya memaafkan dan tidak membalas perbuatan mereka. Apabila kalian ingin agar Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian, maka bersikaplah kepada orang yang berbuat tidak baik kepada kalian seperti sikap Allah kepada kalian. Berbudi luhurlah dengan budi luhur Allah, karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih1. 1 Ayat ini diturunkan ketika Abû Bakr al-Shiddîq bersumpah untuk tidak memberikan bantuan kepada kerabatnya yang bernama Masthah ibn Utsâtsah, karena ia terlibat dalam kasus tuduhan bohong hadîts al-ifk terhadap 'A'isyah r. a. Pengantar Hello Readers! Kali ini kita akan membahas tentang salah satu ayat suci dari Al-Quran, yaitu An Nur ayat 2. Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sering dipelajari oleh umat Muslim karena terkait dengan topik yang sangat penting dalam agama Islam, yaitu kehidupan sosial dan moral. Mari kita bahas lebih lanjut tentang arti perkata dari ayat ini. An Nur Ayat 2 dan Arti Perkata An Nur ayat 2 berbunyi “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus daliyah, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya dalam menerapkan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.”Dalam ayat ini, Allah SWT menghukum perempuan dan laki-laki yang melakukan perbuatan zina. Hukuman yang diberikan adalah seratus daliyah, yang konon merupakan hukuman yang sangat berat. Namun, dalam ayat ini juga terdapat pesan moral yang sangat penting, yaitu tentang pentingnya menjaga kesucian dan kehormatan diri. Makna An Nur Ayat 2 Bukan hanya tentang hukuman, ayat ini juga memiliki makna yang dalam tentang pentingnya menjaga kesucian dan kehormatan diri. Bahwa zina adalah sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji dan harus dihindari. Sebagai umat Muslim, kita harus selalu berusaha menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik dan selalu mengingat bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita lakukan. Pentingnya Menjaga Kesucian dan Kehormatan Diri An Nur ayat 2 menunjukkan bahwa menjaga kesucian dan kehormatan diri adalah hal yang sangat penting dalam agama Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu berusaha untuk tidak terjebak dalam perbuatan yang tidak baik. Kita harus selalu mengingat bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita lakukan dan akan memberikan hukuman yang setimpal jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik. Kesimpulan Dalam kesimpulan, kita dapat menyimpulkan bahwa An Nur ayat 2 merupakan salah satu ayat suci yang sangat penting dalam agama Islam. Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga kesucian dan kehormatan diri adalah hal yang sangat penting dalam agama Islam. Kita harus selalu berusaha untuk tidak terjebak dalam perbuatan yang tidak baik dan selalu mengingat bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kasih telah membaca artikel ini, sampai jumpa kembali di artikel menarik lainnya!

an nur ayat 2 arti perkata